Indahnya Buah dari Ketekunan - EDUKASIPERS.ORG

Breaking News

Indahnya Buah dari Ketekunan

 

Dok. Edu | Ilustrasi oleh Sabril

Hari ini merupakan hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang, Fara berlari menuju sekolah dengan tergesa karena sebentar lagi gerbang akan ditutup. Sesampainya Fara di sekolah, tepat sebelum gerbang ditutup, ia berhenti sejenak untuk menetralkan nafasnya kemudian kembali berlari menuju kelasnya. Dia beruntung, kelasnya belum ada guru yang masuk. Hela nafas keluar dari mulutnya. Ia berjalan menghampiri bangkunya yang di sana sudah ada Sandra, teman sebangku Fara, yang merupakan salah satu murid famous di sekolahnya sebab ia putri dari pemilik sekolah. Fara duduk di bangku kelas sebelas SMA Taruna Nusantara yang merupakan sekolah bergengsi di kotanya, hanya orang-orang berduit yang bisa sekolah di sana.

Meskipun Fara merupakan seorang gadis yang berasal dari keluarga kurang mampu, ia bisa sekolah di tempat yang bergengsi karena kepintarannya yang di atas rata-rata, ia mendapat beasiswa untuk masuk ke sekolah tersebut. Dia memiliki seorang adik yang sekarang duduk di kelas tiga sekolah dasar. Ibunya merupakan seorang pedagang pasar, setiap pagi sebelum sekolah ia selalu membantu ibunya menyiapkan barang dagangan yang akan dijual ke pasar. Ayah Fara telah meninggal saat Fara masih duduk di bangku sekolah dasar, sedangkan adiknya masih berumur tiga tahun. Sepulang sekolah Fara biasa menjajakan dagangan sisa pasar ke kampung-kampung terdekat.

Kring!

Bel istirahat berbunyi, para siswa berhamburan menuju kantin sekolah untuk mengisi perutnya yang kosong setelah belajar di kelas. Fara berjalan menuju perpustakaan untuk mengulang kembali pelajaran yang telah ia pelajari di kelas tadi. Nasib, tiba-tiba Fara terjatuh ke lantai karena ada seseorang yang sengaja menjungkalkannya. Ia meringis kesakitan karena lututnya yang terbentur lantai. Sedangkan orang yang tertawa di belakang Fara adalah yang membuatnya terjatuh, puas akan akibat dari tingkahnya, merupakan anak dari salah satu guru yang mengajar di sekolah tersebut. Bukan sekali dua kali lagi Fara mendapatkan perlakukan tersebut, alasannya adalah Fara anak dari seorang pedagang pasar. Perbedaan yang sangat menonjol pada Fara membuat mereka dengan seenaknya merendahkan Fara, tak peduli dia seorang juara kelas ataupun tidak.

Karena tawa Toni, siswa yang menyelakai Fara, tidak berkesudahan, Sandra berlari mendekati Fara. Dia pun segera menolong Fara dan berniat membawanya ke UKS tapi Fara menolak karena hal tersebut sudah biasa baginya, tidak perlu ke UKS untuk mengobati luka memar di lututnya. Meskipun Sandra seorang putri dari pemilik sekolah, Sandra tidak pernah melakukan hal seenaknya kepada Fara, malah ia selalu membantu Fara ketika ada siswa yang menjahilinya.

Suatu hari Fara terkena masalah besar, ada seseorang yang menipu ibunya di pasar sehingga dagangannya ludes diambil oleh sang penipu. Tentu Fara sangat sedih, teringat ibunya yang selama ini banting tulang untuk menafkahi keluarga. Saat ini ibunya sudah tidak memiliki uang untuk modal dagangannya. Karena kesedihannya itu nilai ulangannya merosot. Dia pun terancam tidak mendapatkan beasiswa lagi karena nilainya yang tidak sesuai syarat beasiswa.

Hingga suatu hari Fara teringat bahwa dia memiliki tabungan yang mungkin cukup untuk membuka usaha. Tabungan itu sudah lama ia kumpulkan sejak ayahnya masih ada di dunia, tapi akhir-akhir ini dia jarang menabung karena ekonomi keluarga yang tidak stabil. Uang dan niatnya dirasa cukup untuk membuka warung makan kecil-kecilan di depan rumahnya, didukung dengan kemampuan memasaknya yang selaras dengan kemampuan akademiknya.

Fara meminta bantuan Sandra untuk mempromosikan warungnya agar banyak orang yang tertarik datang ke warung kecilnya. Usaha Sandra membuahkan hasil, orang-orang berdatangan ke warung Fara untuk sekadar sarapan atau makan siang. Warungnya yang ramai bukan alasan bagi Fara untuk bolos sekolah, ia tetap rajin berangkat sekolah di tengah keramaian warungnya. Dia mempercayakan warungnya kepada ibunya yang memang sudah lihai dalam melayani pembeli. Usaha warung makan semakin melesat sehingga Fara dapat memperkerjakan satu karyawan yang bisa membantu ibunya ketika ia berangkat sekolah. Tabungan yang awalnya ia buat untuk modal kini sudah kembali dan semakin bertambah jauh lebih banyak dari sebelumnya. Teman-teman di sekolahnya pun perlahan mulai menyukai dirinya dan tidak memandang rendah kepadanya.

Fara bersyukur kepada Tuhan yang telah mempermudah usaha yang ia rintis dengan baik. Dia berjanji akan lebih giat dalam belajar. Juara kelas pun selalu dia dapatkan di setiap tahunnya. Tk hanya itu dia pun menjuarai berbagai jenis lomba yang sebelumnya sangat jarang bisa ia ikuti karena biaya pendaftarannya yang mahal. Dengan keadaan hidupnya kini, ia tak ragu lagi untuk mendaftar lomba apa pun karena dia sudah memiliki cukup uang untuk membayar biaya pendaftaran lomba.

 

 (Khofshoh Roichanatul Chikmah)


Tidak ada komentar