Pemasangan Tenda pada PBAK 2019, Wahidah: Perubahan Konsep Awal - EDUKASIPERS.ORG

Breaking News

Pemasangan Tenda pada PBAK 2019, Wahidah: Perubahan Konsep Awal


Dok. Edu|Sulistia
 Wahidah Zein Br Siregar, Dra., MA., Ph.D saat ditemui kru Edukasipers di ruang warek I Twin Towers lantai 3
Edukasipers.org - Surabaya, (15/08/19) Pemandangan tidak biasa terlihat di depan gedung Twin Towers UIN Sunan Ampel Surabaya. Dua hari berturut-turut 82 tenda di pasang dalam rangka kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2019 UINSA.

Warek I, Wahidah Zein menuturkan bahwa tenda putih dengan kerucut di atasnya dipasang saat pelaksanaan PBAK 2019 merupakan sebuah kebetulan, evaluasi dari PBAK tahun 2018 ditempatkan penyelenggara di dua tempat; Sport Center dan Auditorium.

Pada tahun 2018 kegiatan PBAK menuai banyak kontroversi, mulai dari kecemburuan antar fakultas, kenyamanan, dan keluhan dilontarkan baik itu dari pihak mahasiswa maupun panitia dikarenakan terpisahnya lokasi kegiatan.

"Dari PBAK tahun lalu kita mengevaluasi gimana hasilnya, ternyata kan ada merasa tidak nyaman, anak-anak dipisah fakultasnya, kan nggak tergubung ke UIN gitu. Jadi gimana? Ini disatukan saja." tutur dosen alumni The Flinders University of South Australia itu.

Dijelaskan, pemusatan seluruh mahasiswa baru dalam PBAK 2019 bukan konsep awal, awalnya akan ditempatkan di Sport Center lalu di luar diberi tenda, separuh di SC, dan separuh di luar. Ternyata ketika ditanyakan dengan panitia lain menolak, anak-anak terpisah dinding. Kemudian di luar hanya dapat melihat video drone. Yang di dalam dapat melihat pemateri langsung dan dapat bertanya secara langsung, sedangkan yang di luar masa tanya video drone.

Beliau menambahkan bahwa UINSA belum memiliki ruang gedung yang dapat menampung 5000 orang mahasiswa dan panitia.

"Caranya trus gimana? Eh kita sewa tenda aja, apa budget kita cukup? Kalo gedung kan gak bayar uang tenda. Tapi ini kita perlu tenda, jadi parkir dibuat kosong, dibuat 5000 anak kita sewa tenda bisa nggak." jelas Wahidah.

Menurutnya, di awal panitia mau pakai tenda yang biasa, yang penting anak-anak tidak kepanasan. Ada kipas angin tambahannya. Karena semua persewaan tenda biasa habis, ada hajatan manten dan musim tujuh belas-an, tidak ada yang punya persewaan tenda sebanyak itu. Ditakdirkan Allah ada yang menawarkan persewaan tenda baru dengan bentuk mengerucut atapnya.

"Bukan tidak terencana, belakangan muncul idenya. Dari hasil diskusi musyawarah panitia muncul ide seperti itu." tambahnya. (sa)

Tidak ada komentar